Naskah monolog ini dibawakan oleh Nabila Lay Lado (Anggota GMKI Cabang Salatiga), dalam kegiatan "Detik Meraki: Merajut Keresahan" di GMKI Cabang Salatiga, pada 8 Juni 2025
"Diri Sendiri"
Hai aku, diriku sendiri. Dari lalu, beberapa waktu lalu, bahkan berlalu-lalu, sampai sekarang dengan menggunakan kaca matamu, tampil di depan para rekanmu, kau tak juga terpisah oleh gugupmu. Kau terlihat kaku, tubuhmu membisu, ekspresimu tidak selalu baru.
Kamu tahu tidak? Setelah kucari-cari penjelasannya, gugup itu adalah perasaan tidak tenang, bingung, tergesa-gesa, yang sering kali muncul saat kita menghadapi situasi yang membuat seseorang merasa cemas, tertekan, atau tidak percaya diri. Hal ini ditandai dengan reaksi fisik seperti gemetar, gelisah, serta laju pernapasan dan detak jantung yang cepat. Sederhananya seseorang “dag-dig-dug.”
Tapi, persetan dengan perasaan gugupmu. Aku tidak mau membahas itu. Satu hal yang perlu kamu tahu, bahwa saat ini kau tampil, ini bukan soal berani atau tidak berani, gugup atau tidak gugup, namun lebih dari itu, kamu sedang menyampaikan pesan penting soal rasa, kegelisahan dan juga keakraban tentang dunia yang telah menjadi bagian dari dirimu.
Soal rasa, aku tahu kamu pasti telah merasakan semuanya. Manis, pahit, panas, dingin, nyeri, tentu sudah kamu rasakan. Kamu tentu tidak melulu berada dalam satu rasa saja, melainkan sering diperhadapkan dengan berbagai rasa. Dengan berada di pusaran itu, kamu membuat keputusan menjadikan rasamu arus. Kamu tidak mau terjebak di antara salah satunya, bahkan tidak ingin berada dalam semua rasa yang ada. Kamu menciptakan rasamu, yang bahkan di KBBI pun belum ada kata yang dapat mewakili rasamu itu. Kamu memilih melemparkan rasamu kepada semesta, lalu semesta mewujudkannya menjadi ada. Ini melampaui segala yang pada umumnya, yang belum pernah disentuh oleh orang mana pun yang ada di belahan bumi ini. Rasamu tidak berbicara tentang ruang kosong. Rasamu adalah tunggal dan siapapun tidak dapat merasakannya. Ia tidak hanya sekadar seperti matahari yang menjadi satu-satunya energi utama di tata surya, dan tidak juga seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari sehingga terlihat bersinar di langit malam. Lagi dan lagi ia lebih dari itu, belum memiliki nama, namun sudah kupastikan ia berpihak kepada Manusia, Alam, dan Tuhan.
Soal kegelisahan, ia hampir akut seperti yang kalau orang psikologi bilang anxiety. Ada banyak faktor X yang membuat kegelisahan ini memuncak, terutama dari dalam diri. Dari dalam diri, peta kognisi yang sejauh ini telah kamu buat, tidak kunjung permanen. Ia terus dipaksa untuk berubah, membawa dirimu untuk menjadi nomaden. Peta itu terus berubah, terus menggiringmu menjelajahi wilayah tak dikenal, lalu dengan mandiri menyesuaikan diri dengan bagian lain dari dirimu. Kamu belum pernah betul-betul menemui peta tetap apa lagi stabil. Kamu masih harus selalu mawas, selalu menyediakan pensil, kuas, cat, kanvas, dan palet, tuk terus memperbaharui peta itu.
Soal keakraban, selaku percikan Tuhan yang cenderung merenung dalam kesunyian. Terus mempertanyakan esensi mengapa kamu ada di dunia ini adalah pertanyaan yang harus menjadi nomor satu dari sekian banyaknya pertanyaan yang membabi buta di dalam kepalamu. Ini semua harus selalu kamu mulai dari apa yang ada di dalam benakmu, sebab benakmu akan menjadi penyemangat sembari Dia menambahkan selalu pikiran dan akal yang sehat. Dengan begitu, keakraban yang bagimu mustahil terjadi akan berlutut, sebab benakmu lebih dulu melaju secepat laju cahaya. Keakraban perlu kamu buat menjadi seperti pohon yang terus memberikan nutrisi kepada tangkainya tuk menumbuhkan pucuk dedadunan sehabis kemarau. Kamu harus selalu menghidupi segala cinta yang kamu pakai menuntaskan sekelumit rasa dan kegelisahan yang terus memberi cobaan, mengguncang segala kepastian agar menjelmah ketidakpastian.
Salatiga, 8 Juni 2025
Komentar (1)
Tinggalkan Komentar