Hati dan Tempat Peristirahatan

Hati dan Tempat Peristirahatan

"Hati dan Tempat Peristirahatan"

Gemuruh angin meraung di luar jendela,
namun tak ada yang lebih bising
daripada gemuruh luka di dalam dada.

Sakit itu bahkan belum sempat bernama,
belum sempat tumbuh menjadi reruntuhan,
namun telah menghancurkan seluruh isi hati
seperti badai yang merobek langit tanpa aba-aba.

Aku berjalan mencari jalan pulang
di lorong-lorong yang bahkan tak mengenal namaku sendiri.
Mendiami kota yang tak pernah benar-benar menjadi rumah,
menjadi asing di antara ribuan cahaya
yang tak satu pun terasa hangat.

Aku lupa bagaimana caranya kembali.
Lupa bagaimana caranya mengetuk pintu kenangan
tanpa air mata yang runtuh lebih dulu.

Entah rindu seperti apa yang sedang kuinginkan.
Rindu ini terlalu besar untuk disebut sekadar kehilangan.
Ia seperti laut yang menelan daratan,
seperti langit runtuh perlahan
di atas kepala seorang anak kecil
yang hanya ingin dipeluk pulang.

Dan entah tempat peristirahatan seperti apa
yang sedang kucari.
Sebab setiap bahu terasa sementara,
setiap pelukan terasa singgah,
dan dunia terlalu luas
untuk hati yang hanya ingin kembali.

Ah, sudahlah…
Untuk apa semua perjalanan panjang ini
jika pada akhirnya
kau tak juga kembali
memeluk hati yang merindu—
hati yang sejak dulu setia menunggu
kepulangan putri kecilnya.

Pulanglah.
Sebab tempat peristirahatanmu
telah letih menahan sepi.

Pulanglah.
Karena di sini,
ada hati yang masih menyalakan namamu
seperti lilin terakhir
di ujung malam yang nyaris padam.


             Salatiga 8 Maret 2026

 

Ditulis Oleh Mellyana Gadja Lay 
Instagram :@25_laygadja
Email : melianagadjalay25gmail.com

Bagikan artikel ini:

Komentar (1)

Tinggalkan Komentar
Johanes
21 May 2026, 23:47
🔥🔥🔥

Artikel Terkait

Kembali ke Sastra