Tema :
Ketika Mereka Menjadi Kita
Pembacaan Alkitab :
Yohanes 17:21
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya mereka juga di dalam Kita, agar dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
Doa yang Melintasi Waktu
Sebelum Yesus meninggalkan dunia, Ia menengadah kepada Bapa dan menaikkan sebuah doa yang melampaui batas ruang dan waktu. Doa itu bukan hanya untuk para murid yang duduk bersama-Nya malam itu, tetapi juga untuk setiap orang percaya di sepanjang sejarah — termasuk kita hari ini. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh kepentingan, perpecahan, dan ego, Yesus berdoa agar mereka semua menjadi satu.
Doa ini begitu sederhana namun dalam. Ia tidak berdoa agar murid-muridnya menjadi seragam dalam cara berpikir, berpakaian, atau beribadah. Ia berdoa agar mereka memiliki kesatuan hati dan tujuan — kesatuan yang lahir dari kasih dan ketaatan kepada Allah. Sebab hanya kasih yang mampu menyatukan tanpa harus menyeragamkan.
Kesatuan di Tengah Keberagaman
Indonesia adalah rumah bagi ribuan perbedaan — suku, bahasa, adat, dan budaya. Namun, justru di sanalah letak keindahan kita sebagai bangsa. Begitu pula tubuh Kristus: terdiri dari banyak anggota yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu Roh.
Paulus menulis bahwa “tubuh tidak terdiri dari satu anggota saja, tetapi atas banyak anggota” (1 Korintus 12:14). Artinya, tangan tidak bisa menjadi mata, dan mata tidak bisa menggantikan kaki — namun semuanya bekerja bersama untuk satu tujuan: memuliakan Allah.
Kesatuan yang sejati bukanlah tentang menghapus perbedaan, tetapi menerima dan merayakan perbedaan sebagai anugerah Tuhan. Sama seperti sebuah grup band: gitar, drum, dan piano menghasilkan bunyi yang berbeda, tetapi ketika dimainkan dalam harmoni, mereka menciptakan musik yang indah.
Demikian pula kita di dalam Kristus — perbedaan kita seharusnya menciptakan harmoni rohani, bukan disharmoni sosial.
Gereja yang Keluar dan Hadir
Yesus tidak hanya berdoa agar kita menjadi satu, tetapi juga agar dunia percaya. Kesatuan orang percaya bukan tujuan akhir; itu adalah kesaksian hidup bagi dunia. Dunia akan mengenal Kristus bukan melalui kata-kata kita yang indah, melainkan melalui kehidupan kita yang saling mengasihi.
Itulah panggilan gereja masa kini — untuk menjadi teladan dalam kasih dan kesatuan. Kasih yang nyata dalam koinonia (persekutuan), kerygma (pemberitaan Injil), diakonia (pelayanan), dan marturia (kesaksian).
Di tengah krisis moral, polarisasi politik, dan ketidakadilan sosial, gereja tidak boleh berdiam diri di balik tembok gedung ibadah. Gereja harus keluar, hadir, dan berbaur — menjadi garam dan terang, menghadirkan harapan bagi mereka yang terpinggirkan.
Ketika GMKI Menjadi “Kita”
Sebagai bagian dari tubuh Kristus, GMKI dipanggil untuk menjadi perwujudan nyata dari doa Yesus itu.
Apakah kita hanya berhimpun di antara sesama mahasiswa Kristen, ataukah kita sudah keluar dan menjadi berkat bagi masyarakat luas?
Apakah semangat “ut omnes unum sint” — supaya mereka semua menjadi satu — benar-benar hidup di antara kita, atau hanya menjadi semboyan tanpa makna?
Kesatuan tidak akan lahir dari slogan, melainkan dari kerendahan hati untuk mendengarkan, menghargai, dan bekerja bersama, meskipun berbeda pendapat.
GMKI hadir bukan hanya untuk memperjuangkan kepentingan kelompok, tetapi untuk menjadi jembatan kasih dan keadilan di tengah bangsa yang retak oleh perbedaan.
Refleksi Pribadi
Mari bertanya kepada diri kita masing-masing:
-
Sudahkah saya menjadi pembawa damai di lingkungan saya — di kampus, di organisasi, di media sosial, dan di rumah saya sendiri?
-
Apakah saya sudah berani keluar dari zona nyaman iman untuk menjadi berkat bagi sesama?
-
Dalam bidang ilmu saya — entah teknologi, ekonomi, hukum, pendidikan, atau lingkungan — bagaimana saya dapat menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih dan keadilan?
Penutup
Kesatuan bukanlah keadaan yang tercipta begitu saja, tetapi perjuangan yang dibangun setiap hari melalui kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.
Ketika “mereka” yang berbeda mulai kita peluk sebagai “kita” — saat itulah doa Yesus menjadi nyata. Dunia akan melihat dan percaya bahwa Allah sungguh hadir melalui kehidupan kita.
Mari kita wujudkan doa Yesus:
Menjadi satu di dalam kasih dan keadilan, agar dunia percaya bahwa Allah benar-benar hidup di antara kita.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar