Penelaahan Alkitab GMKI Cabang Salatiga: "Bersahabat dengan Diri" — Yohanes 15:1-8

Penelaahan Alkitab GMKI Cabang Salatiga: "Bersahabat dengan Diri" — Yohanes 15:1-8

Petugas Ibadah

 
Selviany Alison Rambu Lika
Pelayan Firman ·Kabid PKK GMKI Salatiga MB 2025 - 2026
 
Johanes F K Pekpekai
Pemusik · Sekcab GMKI Salatiga MB 2025 - 2026
 
Eksaudi Rumbimo
Liturgos · Anggota GMKI Salatiga
 

Pembacaan Alkitab

Yohanes 15:1-8
"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."
 

Renungan: Bersahabat dengan Diri Sendiri

Melalui Yohanes 15:1-8, Firman Tuhan menjelaskan identitas yang sangat jelas: Yesus adalah pokok anggurAllah adalah pengusaha, dan kita adalah ranting-rantingnya. Tugas Allah adalah memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah supaya menghasilkan lebih banyak buah. Pertanyaan yang perlu kita renungkan: Apakah kita mau memberi diri untuk diperbaharui oleh Allah?

Sebagai ranting, kita sangat terbatas. Oleh karena itu, kita perlu melekat seutuhnya dengan Yesus yang adalah pokok anggur agar kita bisa bertumbuh dan berbuah. Seberapa jauh kita melibatkan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari?

"Mungkin tampaknya kita bisa berbuah tanpa Tuhan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tapi seperti semak bulus di padang belantara — buah yang dihasilkan kering, bahkan menjadi tempat debu. Dalam kehidupan kita akan selalu ada gulma yang dapat menghambat pertumbuhan kita, dan hanya Allah yang dapat mencabut atau memperbaharui gulma-gulma tersebut."

Bersahabat dengan diri sendiri bukan berarti membiarkan hidup berjalan sesuai kehendak kita sendiri dengan membiarkan gulma-gulma tumbuh. Sebaliknya, bersahabat dengan diri berarti melepaskan hal-hal yang menghambat pertumbuhan kita. Visi hidup kita tidak akan tercapai jika kita membiarkan gulma-gulma menghambat perjalanan kita.

Kita tidak dipanggil untuk kenyamanan, tetapi kita dipanggil untuk kemuliaan-Nya. Dan semua itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang kita ambil dalam hidup dengan melibatkan Allah di dalamnya. Jika kita tidak mampu untuk berubah, maka kita akan menjadi gulma bagi orang lain di sekitar kita.

"Keterhubungan kita dengan Allah akan menolong kita untuk mengenal diri, diperbaharui, dan mengetahui visi hidup kita."
 

Aktivitas Refleksi Kelompok

Pelayan Firman memberikan aktivitas reflektif kepada seluruh peserta PA. Setiap kelompok mendapat empat kertas berwarna berisi pertanyaan refleksi dan satu kertas HVS putih untuk menggambar sebuah pohon yang kemudian diberi nama sebagai simbol perjalanan hidup masing-masing.

Empat warna kertas mewakili empat dimensi refleksi:

Hijau — Pendekatan pada Allah
Pokok: cara-cara mendekatkan diri kepada Tuhan
Kuning — Tantangan & Realitas
Ranting: konflik internal dan eksternal yang dihadapi
Biru — Nilai & Integritas Diri
Buah: nilai-nilai yang dipegang teguh dalam keseharian
Merah — Pembaruan Diri
Pemangkasan: sifat-sifat yang perlu dibuang dan diperbaharui
 

Hasil Diskusi Kelompok 1 — "Pohon Kehidupan"

 Kelompok 1 · Pohon Kehidupan

Pokok — Pendekatan pada Allah (Kertas Hijau)

Anggota menjawab bahwa cara mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dilakukan melalui: berdoa, bernyanyi, berefleksi, membaca Alkitab/Firman, mengikuti PA, sharing, dan berjalan-jalan melihat pemandangan sebagai bentuk mengagumi ciptaan Tuhan.

Ranting — Tantangan Internal & Eksternal (Kertas Kuning)

Konflik internal yang paling sering muncul adalah keraguan terhadap diri sendiri. Sedangkan konflik eksternal meliputi: penolakan, konflik emosional, tekanan keluarga, ikut campur orang lain, dan tekanan akademik.

Buah — Nilai Integritas (Kertas Biru)

Nilai-nilai diri yang selalu diterapkan anggota antara lain: kasih, ketenangan, penguasaan diri, kesabaran, damai sejahtera, dan ketekunan.

Pemangkasan — Sifat yang Perlu Diperbaharui (Kertas Merah)

Sifat-sifat yang perlu diperbaharui: overthinking, main-main, ketakutan, emosian, dan kebiasaan menunda-nunda. Anggota menyepakati perlunya membangun rasa percaya diri tanpa berpatokan pada pencapaian orang lain, serta keberanian untuk berkata "tidak" jika tidak sesuai dengan nilai yang diyakini.

Melalui hasil diskusi Kelompok 1, diharapkan setiap anggota dapat semakin merefleksikan perjalanan hidupnya selama ber-GMKI — apakah sudah sesuai atau belum dengan nilai hidup yang diajarkan.

 

Hasil Diskusi Kelompok 2 — "Pohon Chirou"

 Kelompok 2 · Pohon Chirou
 

Relasi dengan Allah — Pokok (Akar Fondasi)

Mendekatkan diri dengan Tuhan dilakukan melalui berdoa, pembacaan Firman, pelayanan, dan tindakan nyata sehari-hari. Kelompok menegaskan bahwa membangun relasi dengan Tuhan tidak cukup hanya secara teori, tetapi harus dilakukan secara konsisten melalui kebiasaan rohani yang nyata.

Tantangan Hidup — Ranting (Realitas yang Dihadapi)

Berbagai tantangan seperti tekanan keluarga, konflik emosi, perasaan diabaikan, hingga tuntutan akademik dipahami sebagai bagian dari realitas yang harus dihadapi dalam proses pertumbuhan. Respons terhadap situasi tersebut sangat menentukan kualitas hidup seseorang.

Nilai-Nilai Positif — Buah (Hasil Pertumbuhan)

Dari fondasi yang kuat dan kemampuan menghadapi realitas, lahirlah nilai-nilai positif seperti: kasih, kesabaran, penguasaan diri, damai sejahtera, dan ketekunan — sebagai buah nyata dari pertumbuhan rohani.

Pemangkasan — Keberanian Melepaskan (Proses Evaluasi Diri)

Pertumbuhan tidak akan optimal tanpa keberanian untuk menyadari dan menghilangkan sifat-sifat negatif seperti: overthinking, ketakutan, emosi tidak terkontrol, dan kebiasaan menunda-nunda. Dengan pemangkasan ini, kehidupan dapat berkembang secara lebih sehat, dewasa, dan berdampak bagi diri sendiri maupun orang lain.

"Kehidupan manusia merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan antara fondasi iman, realitas hidup, nilai yang dihasilkan, dan proses evaluasi diri." — Hasil diskusi Kelompok 2
 

Penutup

PA ini menjadi ruang yang bermakna bagi setiap anggota GMKI Cabang Salatiga untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan bertanya: Apakah aku sudah sungguh-sungguh melekat pada Yesus sebagai pokok anggur?

Bersahabat dengan diri bukan berarti menerima semua kelemahan tanpa upaya perubahan. Sebaliknya, ia berarti membuka diri untuk dipangkas, diperbaharui, dan ditumbuhkan oleh Allah — sehingga kita dapat berbuah lebat bagi kemuliaan-Nya, kebaikan sesama, dan keutuhan diri kita sendiri.

1 Tesalonika 5:18
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Amin.

Ut Omnes Unum Sint.

 

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Kembali ke Renungan