Petugas Ibadah
Pembacaan Alkitab
Renungan: Bersahabat dengan Diri Sendiri
Melalui Yohanes 15:1-8, Firman Tuhan menjelaskan identitas yang sangat jelas: Yesus adalah pokok anggur, Allah adalah pengusaha, dan kita adalah ranting-rantingnya. Tugas Allah adalah memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah supaya menghasilkan lebih banyak buah. Pertanyaan yang perlu kita renungkan: Apakah kita mau memberi diri untuk diperbaharui oleh Allah?
Sebagai ranting, kita sangat terbatas. Oleh karena itu, kita perlu melekat seutuhnya dengan Yesus yang adalah pokok anggur agar kita bisa bertumbuh dan berbuah. Seberapa jauh kita melibatkan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Bersahabat dengan diri sendiri bukan berarti membiarkan hidup berjalan sesuai kehendak kita sendiri dengan membiarkan gulma-gulma tumbuh. Sebaliknya, bersahabat dengan diri berarti melepaskan hal-hal yang menghambat pertumbuhan kita. Visi hidup kita tidak akan tercapai jika kita membiarkan gulma-gulma menghambat perjalanan kita.
Kita tidak dipanggil untuk kenyamanan, tetapi kita dipanggil untuk kemuliaan-Nya. Dan semua itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang kita ambil dalam hidup dengan melibatkan Allah di dalamnya. Jika kita tidak mampu untuk berubah, maka kita akan menjadi gulma bagi orang lain di sekitar kita.
Aktivitas Refleksi Kelompok
Pelayan Firman memberikan aktivitas reflektif kepada seluruh peserta PA. Setiap kelompok mendapat empat kertas berwarna berisi pertanyaan refleksi dan satu kertas HVS putih untuk menggambar sebuah pohon yang kemudian diberi nama sebagai simbol perjalanan hidup masing-masing.
Empat warna kertas mewakili empat dimensi refleksi:
Hasil Diskusi Kelompok 1 — "Pohon Kehidupan"
Pokok — Pendekatan pada Allah (Kertas Hijau)
Anggota menjawab bahwa cara mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dilakukan melalui: berdoa, bernyanyi, berefleksi, membaca Alkitab/Firman, mengikuti PA, sharing, dan berjalan-jalan melihat pemandangan sebagai bentuk mengagumi ciptaan Tuhan.
Ranting — Tantangan Internal & Eksternal (Kertas Kuning)
Konflik internal yang paling sering muncul adalah keraguan terhadap diri sendiri. Sedangkan konflik eksternal meliputi: penolakan, konflik emosional, tekanan keluarga, ikut campur orang lain, dan tekanan akademik.
Buah — Nilai Integritas (Kertas Biru)
Nilai-nilai diri yang selalu diterapkan anggota antara lain: kasih, ketenangan, penguasaan diri, kesabaran, damai sejahtera, dan ketekunan.
Pemangkasan — Sifat yang Perlu Diperbaharui (Kertas Merah)
Sifat-sifat yang perlu diperbaharui: overthinking, main-main, ketakutan, emosian, dan kebiasaan menunda-nunda. Anggota menyepakati perlunya membangun rasa percaya diri tanpa berpatokan pada pencapaian orang lain, serta keberanian untuk berkata "tidak" jika tidak sesuai dengan nilai yang diyakini.
Melalui hasil diskusi Kelompok 1, diharapkan setiap anggota dapat semakin merefleksikan perjalanan hidupnya selama ber-GMKI — apakah sudah sesuai atau belum dengan nilai hidup yang diajarkan.
Hasil Diskusi Kelompok 2 — "Pohon Chirou"
Relasi dengan Allah — Pokok (Akar Fondasi)
Mendekatkan diri dengan Tuhan dilakukan melalui berdoa, pembacaan Firman, pelayanan, dan tindakan nyata sehari-hari. Kelompok menegaskan bahwa membangun relasi dengan Tuhan tidak cukup hanya secara teori, tetapi harus dilakukan secara konsisten melalui kebiasaan rohani yang nyata.
Tantangan Hidup — Ranting (Realitas yang Dihadapi)
Berbagai tantangan seperti tekanan keluarga, konflik emosi, perasaan diabaikan, hingga tuntutan akademik dipahami sebagai bagian dari realitas yang harus dihadapi dalam proses pertumbuhan. Respons terhadap situasi tersebut sangat menentukan kualitas hidup seseorang.
Nilai-Nilai Positif — Buah (Hasil Pertumbuhan)
Dari fondasi yang kuat dan kemampuan menghadapi realitas, lahirlah nilai-nilai positif seperti: kasih, kesabaran, penguasaan diri, damai sejahtera, dan ketekunan — sebagai buah nyata dari pertumbuhan rohani.
Pemangkasan — Keberanian Melepaskan (Proses Evaluasi Diri)
Pertumbuhan tidak akan optimal tanpa keberanian untuk menyadari dan menghilangkan sifat-sifat negatif seperti: overthinking, ketakutan, emosi tidak terkontrol, dan kebiasaan menunda-nunda. Dengan pemangkasan ini, kehidupan dapat berkembang secara lebih sehat, dewasa, dan berdampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penutup
PA ini menjadi ruang yang bermakna bagi setiap anggota GMKI Cabang Salatiga untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan bertanya: Apakah aku sudah sungguh-sungguh melekat pada Yesus sebagai pokok anggur?
Bersahabat dengan diri bukan berarti menerima semua kelemahan tanpa upaya perubahan. Sebaliknya, ia berarti membuka diri untuk dipangkas, diperbaharui, dan ditumbuhkan oleh Allah — sehingga kita dapat berbuah lebat bagi kemuliaan-Nya, kebaikan sesama, dan keutuhan diri kita sendiri.
Amin.
Ut Omnes Unum Sint.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar